Menunggu Bintang di Surya Kencana
Kuseduh Jahe hangat dari kompor paraffin sebelum memulai tulisan ini, ditemani tetesan embun dingin mengalir di sela tenda, yang terhampar di Alun-Alun Surya Kencana. Gambaran setting film “Soe Hok Gie” dengan hamparan eidelweiss di Alun-Alun Surya Kencana menginspirasi untuk bergabung dengan Ekspedisi Gede dengan Honda Adventure Team (HAT).
“Kembali ke Masa Muda !” Itulah semangat saya dalam ekspedisi kali ini.
Menuju puncak Gede dengan ketinggian 2958 MDPL (Meter Di atas Permukaan Laut) bisa dilalui dua jalur, Gunung Putri atau Cibodas. Tergantung selera dan kemampuan.
Jika ingin jalur cepat dan menantang, silakan ambil jalur gunung Putri dengan trek pendakian nyaris 90 derajat dengan kondisi pendakian terjal dan nyaris tanpa “bonus”, maksud “bonus” adalah trek lurus dan datar sehingga bisa irit tenaga saat pendakian. Jika ingin jalur yang “sedikit” lebih layak dan banyak pemandangan, silakan ambil trek CIbodas. Jalurnya datar dan ada beberapa pemandangan sebagai pelepas kepenatan. Air terjun Cibereum, melewati air belerang sampai Tanjakan Setan.
Pilihan kami melalui Gunung Putri. Sederhana saja, karena kami ingin bermalam di Surya Kencana yang terkenal dengan padang Eidelweissnya. Setelah mengurus perijinan pada ranger setempat di GPO (Gede Pangrango Operation).
Pesan standar ranger ”Jangan Bawa Eidelwiess, jangan naik pakai sandal, harus pakai sepatu, sampah dimasukkan kantung plastik dan dibawa turun.” Itulah pasal-pasal wajib para pendaki Gede, kalau ingin aman dan selamat. Oiya, ranger itu petugas yang bertugas mengontrol para pendaki. Cara kerjanya cukup rapi, jauh-jauh hari kami diharuskan mendaftar dengan menyetor KTP untuk data para pendaki.
Gaya Deni Sumargo dan kawan-kawannya di film 5 cm memberikan inspirasi team ekspedisi Gede kali ini untuk banyak gaya saat mendaki alias foto, bahkan ada yang berharap ketemu jodoh di Gunung Gede.
”Punten... punten !” sapaan tiga orang setengah baya mengagetkan kami saat menapaki setengah perjalanan. Ternyata mereka adalah team Nasduk atau team penjual nasi uduk. Mereka adalah warga di kaki gunung yang mengais rejeki dengan menjual Nasi Uduk di puncak gunung Gede. Tebak berapa waktu yang mereka butuhkan untuk naik ke puncak Gede ? Cukup 3 jam saja. Hanya dengan berbekal satu ransel kecil berisi nasi uduk bungkus dan sepatu ala kadarnya, mereka menaklukkan tanjakan terjal.
Beda banget dengan team kita yang naik gunung dengan membawa ransel sebesar lemari es dan peralatan lengkap.
Jaket basah, dengkul ”koplak” seolah terbayar saat sepatu karimor ini menapaki area alun-alun Surya Kencana. Baru kali ini melihat padang rumput seluas itu dengan goresan eidelweiss di setiap sudutnya. Kami melihat sisi barat Surya Kencana, alasannya mendekati mata air dan dekat dengan jalur menuju puncak Gede.
Berbagi makanan dengan para pendaki lain grup bisa jadi salah satu bentuk rasa persaudaraan antar anak gunung. Jangan kira di puncak gunung makanan tak terjamin. Sebut saja semua makanan enak yang ada di dunia ini. Nasi uduk ? Ada... Sosis goreng ? Ada... rendang balado ? Ada.... sampai indomie rebus pakai telor pun ada. Silakan dibayangkan gimana cara bawa telor mentah ke puncak gunung.
Saat yang tepat untuk mendaki sebenarnya Juni atau Juli, dimana saat itu adalah saatnya bunga Eidelweiss cantik-cantiknya mekar. Ekspedisi kali ini dilakukan April dengan background cerita hujan dan hujan dan hujan. Baju, jaket, sepatu basah. Justru itulah seninya perjalanan kali ini.
Menunggu bintang di musim penghujan seperti ini bagaikan mengharap Gogon Srimulat berambut gondrong alias lama banget. Kerlipan Bintang hanya sempat mengintip sebentar untuk kemudian hilang ditelan pekatnya langit. Hilang sudah harapan mengabadikan cakrawala fajar alias sunrise.
Menaklukkan puncak Gede ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Ratusan pendaki sudah memenuhi puncak Gede. Sehingga mau foto saja susah. Ternyata bukan itu saja. Sudah menunggu dengan manisnya beberapa Tukang jualan Pop Mie dan Kopi panas. Tenang, jangan kaget dulu. Ternyata tukang Pop Mie juga membawa anaknya yang berumur 12 tahunan. Mari dibayangkan lagi gimana itu tukang pop mie membawa anak kecil.
Turun melalui jalur Cibodas bagaikan jalur surga setelah kami mendaki melalui jalur gunung putri. Setelah berteduh dan menghabiskan bekal sejenak di Kandang Badak, area perkemahan para pendaki sebelum menuju puncak Gede. Balapan menuju Cibodas pun tidak terhindarkan, Sepatu copot, jempol kaki kejepit, dengkul koplak pun menjadi pemandangan yang lazim.
Air terjun Cibereum merupakan objek yang juga wajib dikunjungi bagi pendaki yang pertama kali melewati jalur Cibodas, serta berfoto di jembatan rawa Gayonggong.
Pedasnya Indomie rebus telur cabe ijo dan teh hangat Mang Idi, salah satu warung terkenal dikalangan pendaki di Cibodas, menutup ekspedisi Gunung Gede kali ini. ( Chayo )
Ini Tulisanku… Mana Tulisanmu ?
Senin, 13 Mei 2013
Menunggu Bintang di Surya Kencana
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar